Mari bagikan!

Pimpinan Cabanag Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Surabaya merupakan salah satu PC IMM terbesar di Jawa Timur, sejarah panjang berdirinya Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Kota Surabaya tidak bisa dipungkiri berkat kerja keras Founding Fathernya. Dengan jumlah 22 Komisariat yang dinaunginya, PC IMM Kota Surabaya membentuk kampung-kampung binaan di pinggir-pinggir Kota Pahlawan, “Ilmu adalah amaliah, dan amal haruslah Ilmiah” spirit dari kalimat ini yang memantabkan dakwahnya bahwa IMM harus mampu menyebar sampai di pelosok kota.

Dalam Priode Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Surabaya ditahun ini mempertegas arah geraknya “Basis Keilmuan dalam Pemberdayaan Sosial dan Ekonomi”, arah gerak ini merupakan rel perjuangan satu tahun PC IMM Kota Surabaya Periode 2016-2017 yang harus diwujudkan. Menjadikan keilmuan sebagai dasar pijakan atas setiap pergerakan kader IMM, membumikan gerakan pemberdayaan sosial dan ekonomi untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat.

IMM Kota Surabaya hari ini menitik beratkan kepada lahan garapannya. Yang pertama dalam sektor literasi/keilmuan, pengurus cabang melihat kondisi di dalam 22 komisariat IMM se-Surabaya masih krisis sekali akan keilmuan serta memudaranya budaya literasi entah itu membaca, menulis ataupun berdiskusi. Maka sejarah panjang perjalanan IMM Kota Surabaya akan mampu dilanjutkan ketika kader mulai mampu menciptakan budaya literasi untuk menopang pergerakan ikatan dalam berdiaspora.

Lahan garapan yang kedua dalam sektor Pemberdayan Sosial. Tidak bisa dipungkiri, kota Surabaya sejatinya merupakan kota metropolitan di Indonesia yang disuguhi oleh kemewahan dan kesejahteraan. Namun, realitanya masih banyak anak-anak putus sekolah dan minimnya pendidikan, peran IMM sebagai laboratorium pengkaderan harus mampu bertrasformasi sosial untuk menjawab permasalahan  bangsa ini, serta mempertegas peran IMM sebagai intelektual muda agar bisa dirasakan di segala lini.

Selanjutnya lahan garapan yang ketiga adalah sektor Ekonomi, melihat MEA yang sudah di ujung gerbang serta belum mampunya kader IMM untuk mandiri secara organisasi maupun individual. Dalam konteks ini juga dilihat ekonomi dalam kampung-kampung binaan IMM untuk mengurangi angka kemiskinan. Oleh sebab itu, IMM harus mampu berdikari untuk menghadapi globalisasi kedua.