Mari bagikan!

Perform PC IMM Surabaya

Perform PC IMM Surabaya


Syahdan..
API JIWA 10 NOVEMBER, begitulah tema acara dalam malam refleksi hari pahlawan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah/IMM kota Surabaya. Bertempat di taman Absari pada kamis malam jum’at, 9 November 2017. Syahdan.. Seorang tokoh ada yang berkata begini, ini beneran, agak serius dikit gapapa yaa, pelan-pelan saja, tapi boleh percaya atau tidak. Begini katanya, “manusia itu berhak hidup di dalam sebuah dunia yang mengandung makna, karena sepanjang sejarah masyarakat itu memiliki usaha kolektif untuk me-nakna-kan kenyataan yang dihadapi dan dialaminya, baik dengan menafsirkan maupun dengan mengolahnya. Untuk secara bersama-sama mengusahakan agar terbentuk sebuah dunia yang lebih manusiawi.”– Peter L. Berger seorang sosiolog kontemporer. Begitulah katanya. Sehingga teranglah maksud saya ini, marilah kita berlomba-lomba dalam memaknai hari yang baik ini, hari pahlawan 10 November 2017, semoga Tuhan selalu memberkati..!!
.
Aksi dolanan, begitulah judulnya.. begini ceritanya, saya iri kala melihat anak kecil, ia yang terlihat asik sekali, mulutnya sambil bernyanyi-nyanyi pelan keras, ditambah kadang ia berbicara sendiri, layaknya anak kecil biasanya. Sambil mengikuti irama tanganya yang memegang pensil, anak kecil itu sedang menggambar, mungkin hobi, atau kebiasaan, atau mungkin PR dari sekolahnya. Namun saya tidak peduli, yang jelas dari kenyataan murah tersebut, saya seolah telah mendapat pelajaran seketika, situasi yang kala itu seolah hendak berbicara kepada saya, “lihatlah.. anak kecil itu sangat menikmati keseriusannya, ia begitu totalitas dalam menggambar, bahkan mungkin juga sering lupa persoalan makan, soal perutnya sendiri, menikmati dan menjiwai betul apa yang ia lakukan, tak terlintas sedikitpun bahwa ia akan mendapat apa dari usaha kerasnya itu.” Begitu sucinya kenyataan ini.
.
Itulah pe-makna-an saya, tidak perlu dengan pandangan yang terlalu melambung, andaian-andaian langit, dalam mencari rumus dan konsep perjuangan hidup. Bagi saya perlulah kita tengok kembali nilai-nilai kita waktu kecil, ketulusan kala berteman, kejujuran kala bertindak, ke apa-adanya-an kalau menyukai sesuatu, daya fitrahnya pada hidup. Tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormat dan hikmat kepada seluruh para pahlawan yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan. Bagi saya, setiap dari mereka telah memiliki fitrah manusiawi yang bisa saya analogikan seperti anak kecil di atas, ia begitu serius dan menjiwai dalam menggambar, apalagi persoalan akan laku atau tidak hasilnya tersebut, pokoknya ia suka sekali menggambar, sepenuh hati.
.
Sipulnya, sebagai generasi lanjut dalam memperjuangkan cita-cita para pahlawan, mari kita belajar, mari kita bekerja, mari kita hidup beramai dan berasama, me-maknai kemerdekaan ini seluruh jiwa dan raga. Jika hendak demikian, adalah dunia pelacuran, yang jika kita melakukan pekerjaan itu tanpa di dasari sebuah penjiwaan, bersenggama tanpa adanya cinta. Begitulah kurang lebih pesan sirat dari seuntai karya kita, bagi seluruh khalayak umum, bagi seluruh rakyat yang merdeka, khususnya pemuda-pemuda di jaman now. meminjam istilah yang sedang popular saat ini. Atau kalau perlu, mari kita tulis dipapan-papan tulis sekolah, bahwa tabiat pendidikan haruslah sebagai pengolah api jiwa, melukir kebijaksanaan hidup, memiara fitrah kemanusiaan. Bukan malah mempersempit lahan hidup, dengan dalih profesional-profesional pekerjaan, yang tanpa hidup penjiwaan dan kepribadiannya. Seperti mesin, dan calon besi tua.
M E R D E K A . . (Milada Romadhoni)
Surabaya, 09 November 2017.