Mari bagikan!

Di era pandemi COVID-19 di dunia sekarang ini, istilah “di rumah aja” menjadi sesuatu yang tidak lagi asing di masyarakat Indonesia beberapa pekan terakhir. Hal ini dikaitkan dengan adanya himbauan dari World Health Organization (WHO) tentang physical distancing atau membatasi kegiatan di luar rumah dan mengurangi interaksi langsung dengan orang lain. Peningkatan angka kasus COVID-19 yang semakin melunjak di Indonesia menjadi alasan utama diterapkannya pembatasan ini. Seperti yang kita ketahui bahwa penularan dan penyebaran virus ini adalah melalui cairan batuk dan bersin yang bisa secara langsung atau tidak langsung mengontaminasi orang lain di sekitar pasien terinfeksi. Maka dari itu, kita sebagai warga negara yang baik harusnya mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah untuk banyak beraktivitas dari rumah saja. Memang tidak mudah menjalaninya, ya? Apalagi bagi kita sebagai mahasiswa yang mungkin tidak semua bisa mengikuti perkuliahan dengan baik apabila dilakukan dengan sistem online.

Kasus COVID-19 ini meningkatkan stres bagi banyak orang dikarenakan lonjakan emosi yang kuat karena ketakuran dan kecemasan terhadap keadaan dirinya dan orang-orang disekitarnya. Namun, dengan adanya pandemi ini kita dipaksa untuk menghadapi dan mencoba mengatasi rasa stres. Keadaan seperti ini yang akan membuat kita dan lingkungan sekitar kita menjadi lebih kuat. Setiap orang memiliki tanggapan dan respon yang berbeda terhadap masalah dan stres. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi reaksi seseorang adalah latar belakangnya, hal-hal yang membuat mereka merasa berbeda, dan keadaan mereka di lingkungannya. Seseorang yang sering dihadapkan dengan masalah pasti akan jauh lebih bisa menyesuaikan dan mengendalikan diri dibanding mereka yang terbiasa dalam “zona nyaman” kehidupannya. Bagaimana dengan dirimu? Apa kamu sudah termasuk mereka yang bisa mengendalikan diri saat mengatasi permasalahan?

Tidak lepas dari “masalah”, hal ini akan memengaruhi kesehatan baik secara fisik maupun psikis. Mengapa hal itu bisa terjadi? Pada dasarnya manusia diberi “otak” dan “hati” untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Dua komponen ini yang akan memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Kembali lagi ke masalah pembatasan kegiatan di luar rumah yang sudah pasti akan mengganggu kesehatan kita. Secara fisik kita tidak bisa beraktivitas dengan leluasa seperti kuliah di kampus, bekerja di kantor, belanja ke pusat perbelanjaan, nongkrong di kafe, makan di restoran, olahraga di car free day, dan banyak hal lain. Kalau kita tidak pandai memanajemen diri selama dirumah dengan tetap beraktivitas fisik, sudah pasti kita akan kurang bergerak dan memberi dampak buruk bagi tubuh. Ketika kita yang terbiasa melakukan banyak aktivitas di luar rumah tiba-tiba harus memaksakan diri bertahan dirumah jika tidak mendesak, pasti akan merasakan perubahan psikis secara signifikan. Merasakan bosan, gelisah, khawatir, cemas, panik, dan lain-lain. Akhirnya lambat laun bila kita tidak segera menanggapi keadaan diri, akan timbul masalah kesehatan mental.

Bagaimana kesehatan mentalmu?

Kesehatan mental itu apa sih? Menurut buku yang berjudul “Positive Psychology: The Scientific and Practical Explorations of Human Strenghts”, kesehatan mental adalah kemampuan seseorang untuk menikmati hidup dan menyeimbangkan aktivitas kehidupan secara fisik dan upaya untuk mencapai ketahanan psikologis. Berdasarkan World Health Organization (WHO), kesehatan mental yaitu diukur dari beberapa hal antara lain:

  1. Merasakan kesejahteraan. Kesejahteraan seseorang bisa dilihat dari bagaimana mereka merealisasikan kemampuan, mengatasi permasalahan, produktif dalam pekerjaan, dan kontribusinya pada lingkungan sekitar.
  2. Dapat menyadari batasan kemampuan diri. Seseorang yang sehat mental tahu apa saja yang perlu dan bisa dilakukan.
  3. Memiliki kebebasan dan kewenangan melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
  4. Memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu secara mandiri.
  5. Masih bergantung dengan generasi sebelum atau setelahnya.
  6. Memiliki aktualisasi diri dari potensi intelektual dan emosionalnya.

Kesehatan mental menurut Graham (2014) juga menyoroti kesejahteraan emosial, kemampuan menjalani kehidupan dengan kreativitas yang dimiliki, fleksibilitas dalam menghadapi tantangan dan masalah. Fungsi mental sendiri adalah untuk membentuk pemahaman yang lebih lengkap tentang menghadapi gangguan mental dan perilaku, sebagai fondasi fisiologis, dan menghubungkan fungsi fisik dan sosial untuk kesehatan secara keseluruhan. Banyak orang yang masih mengesampingkan masalah kesehatan mental mereka karena kurangnya pemahaman dan kesadaran diri sendiri. Stigma yang ada di masyarakat bahwa ketika orang ingin pergi ke psikolog ataupun psikiater berarti seseorang itu dianggap “gila”. Padahal masalah mental tidak hanya sedekar “gila”. Bahkan ketika kamu susah tidur atau merasa nafsu makan berlebihan, itu sudah masuk kategori gangguan mental.

Dalam pandemi COVID-19 ini, munculnya stres pada seseorang bisa disebabkan oleh berbagai alasan. Munculnya rasa takut dan khawatir yang berlebihan akan virus yang kemungkinan dapat menular kepada dirinya dan orang-orang sekitarnya, keadaan ini banyak membuat seseorang menjadi “overthinking” sehingga banyak melakukan sesuatu yang malah merugikan orang lain. Seperti contohnya menimbun masker medis dan hand sanitizer dirumah untuk kepentingan pribadi. Seseorang yang mengalami stres karena waktu karantina seperti ini bisa mengalami gangguan tidur bahkan gangguan makan. Karena terlalu lama dirumah, seseorang mungkin merasa sulit konsentrasi alih-alih merasa bosan atau gelisah. Ketika seseorang dalam waktu karantina ini memang sudah memiliki riwayat penyakit sebelumnya, bisa jadi kondisi kesehatannya menurun dikarenakan stres. Risiko tinggi terhadap beberapa kelompok seperti remaja laki-laki atau perempuan menyalahgunakan alkohol hingga obat-obatan. Bahkan disaat seperti ini banyak oknum yang memanfaatkan keadaan atau mengambil keuntungan dengan cara menjual kembali barang yang langka di pasaran dengan memasang harga tingggi.

Ketika kita harus menghadapi keadaan stres ini, jangan berusaha menghindar. Dari masalah ini kita bisa belajar menjaga diri, teman-teman, dan keluarga sehingga dapat mengurangi stres. Menghadapi stres bersama-sama juga dapat memperkuat hubungan dan keadaan mental diri dan lingkungan sekitar kita.

Ada beberapa cara mengatasi stres dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), yaitu:

  1. Beri jeda sejenak dari segala berita tentang pandemi COVID-19.
  2. Lakukan meditasi.
  3. Penuhi asupan gizi dengan konsumsi makanan sehat dan seimbang.
  4. Lakukan aktivitas fisik secara teratur dan istirahat yang cukup.
  5. Hindari konsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang.
  6. Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas atau hobi yang disukai.
  7. Jaga komunikasi dengan orang lain. Sampaikan keadaan perasaanmu sekarang ke orang yang kamu percaya.

WHO juga memberi saran untuk menjaga kesehatan mental yang hampir mirip dengan anjuran CDC. Tetap berhubungan dengan orang terdekat atau tersayang melalui telepon, email, media sosial, atau panggilan video. Buatlah jadwal kegiatan rutin dirumah sebanyak-banyaknya agar terhindar dari perasaan bosan atau jenuh. Lakukan kegiatan fisik ringan dirumah untuk menjaga mobilitas. Mencari informasi untuk mendapat bantuan secara cepat dan praktis, pastikan sediaan kebutuhan obat selama karantina ini terpenuhi. Kemudian minta dukungan kepada lingkungan sekitar seperti anggota keluarga, teman atau tetangga bila perlu. Jangan lupa tetap menjaga jarak dengan orang lain selain orang rumah dan orang rumah jika kurang sehat.

Mengetahui fakta tentang COVID-19 dan membagikan informasi yang tepat ke orang lain akan membantu mengurangi stres menghadapi pandemi ini selama beraktivitas dirumah. Orang lain juga tidak akan terlalu khawatir atau sampai panik dengan keadaan yang ada sekarang. Jaga kesehatan mentalmu selama dirumah. Jika kamu sudah merasa stres hingga mengganggu kegiatan sehari-hari, segera konsultasi ke psikolog atau psikiater. Hilangkan stigma bila berobat masalah kesehatan mental itu berarti kamu “gila”, yuk!

Jadi, jangan khawatir kalau kamu sekarang dihimbau untuk banyak beraktivitas dirumah saja. Banyak sekali kegiatan yang bisa kamu lakukan mandiri ataupun melibatkan orang-orang rumah agar situasi dalam rumah semakin harmonis. Ayo taati aturan dari pemerintah agar pandemi COVID-19 di Indonesia ini cepat berlalu dan kita bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Kalau tidak dimulai dari diri sendiri, nanti penularan dan penyebaran virusnya tidak akan segera berakhir. Semoga kita semua sekeluarga selalu diberi perlindungan dan kesehatan, ya. Alshafiera Azayyana M.S (Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya).

 

 

Daftar Pustaka:

Centers for Disease Control and Prevention, 2020. Stress and Coping. Published at https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/managing-stress-anxiety.html. (Tanggal akses 14 April 2020)

 

Frijda, N.H., 1993. Handbook of Emotions: Moods, emotion episodes, and emotions. New York: Guilford Press.

 

Graham, Michael C., 2014. ‘Facts of Life: ten issues of contentment’, Outskrits Press, pp. 6-10 (Tanggal akses 14 April 2020)

 

Snyder, C.R., Shane J. Lopez, Jennifer Teramoto Pedroth, 2011. Positive Psychology: The Scientific and Practical Explorations of Human Strenghts second edition. US: SAGE Publications.

 

World Health Organization, 2001. The World Health Report: Mental Health: New understanding, new hope. Geneva: World Health Organization.

 

World Health Organization, 2020. Looking after our mental health. Published at https://www.who.int/news-room/campaigns/connecting-the-world-to-combat-coronavirus/healthyathome/healthyathome—mental-health. (Tanggal akses 14 April 2020)