Mari bagikan!

Oleh: Dendy (Ketua Umum PK IMM Ushuluddin FIAD UMSurabaya)

Belum lama ini saya di ajak untuk menulis dalam sebuah website. Tentunya tidak main-main isi dalam website itu berupa opini, tanggapan, atau cerita yabg ditulis penuh hikmah yang sebagian besar kader IMM kota Surabaya. Atas ajakan itu saya berbagi apa-apa yang saya ketahui khususnya dalam bidang studies religion(studi agama-agama).

 

 

Awalnya begitu sulit menemukan inspirasi tulisan tentang refleksi keagamaan. Bagaimana tidak sulit, hampir setiap detik hidup yang manusia lalui selalu berlabel umat beragama. Perjalanan hidup beragamapun terlalu berharga untuk tidak dituliskan. Ditambah dengan tulisan yang tidak sampai 5000 karakter ini yang jauh dari kata sempurna.

 

 

Terlepas dari semua itu, Tanggal 12 Juli 2019, saya berdialog dengan salah gus Muhammad ma’mun dalam suatu kesempatan acara di kota Surabaya. Dalam perbincangan saya tersebut, saya diajak berdialog mengenai cinta ilahi. Saya mencoba menjadi lawan bicara yang saya bungkus dengan kata yang menurut saya paling apik (baik & tersusun) Karena saya tahu diri, hanya beberapa gelintir ilmu agama yang saya ingat.

 

 

Ditanya salah satu surat di juz 30 saja masih suka lupa. Pertanyaan Gus Ma’mun dan juga pertanyaan yang sempat dilemparkan seorang mahasiswa terhadap gus, katanya dalam dialog di salah satu PTN.

 

 

Dari banyaknya dialog mengenai hasil makna cinta ilahi. Gus mencontohkan dengan sebuah cerita klasik.
Memeluk paradoks yang dihasilkan dari perpaduan dua cara pandang itu menjadi satu-satunya jalan biar hidup “tenang”. Saya kira tak ada cara lain yang mungkin dilakukan jika ingin mengalami secara utuh. Namun, apakah hal ini (keutuhan cara pandang) harus menjadi wajar/lazim bagi semua pemeluk agama, atau khusus bagi mereka yg memang bertekad mencari saja?

 

 

Idealnya sih, semua pemeluk agama punya pandangan utuh seperti itu. Tapi hanya mereka yang bertekad mencari yang bisa meraihnya.

 

 

Jadi cukupkah hanya melihat cinta ilahi dengan patuh dan taat?