Mari bagikan!

Oleh : Artansyah Rahmatan Putra

(ketua umum IMM kaizen)

 

Dalam sebuah ilmu pengetahuan harusnya selalu di uji autensitasnya secara autentik dengan tujuan sebagai pemantapan aksiologi guna menerapkan dan pengamalan terhadap nilai ikatan. Ikatan mahasiswa muhammadiyah (IMM) dalam enam penegasan dengan jelas menyatakan dirinya sebagai organisasi mahasiswa islam. Yang tentunya memiliki tangung jawab besar dalam mengawal kehidupan umat (masyarakat). prinsip gerakan IMM adalah gerakan amal-ilmiah dan ilmu-amaliah. Artinya, setiap amal yang dilakukan IMM adalah amal yang berlandaskan kepada pola pikir logis, teoristis kritis, dan memiliki pijakan bergerak. dan setiap ilmu yang dimiliki IMM adalah ilmu yang di transformasikan dan dijalankan untuk kepentingan bersama (masyarakat, bangsa, dan agama)

Dalam buku manifesto gerakan intlektual profetik menyebutkan, ikatan sebagai organisasi pengerak bukan hanya pengontrol kebijakan pemerintah, tetapi dapat melakukan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat, karena hal tersebut sudah merupakan kewajiban. IMM memiliki dua titik sasaran yakni penguasa dan pemberdayaan masyarakat sebagai bentuk pengabdian dan proses

Makna autentik tersendiri yaitu dapat di percaya asli atau tulen dalam asumsi kader autentik berati harus mempunyai garis besar yang dapat dipercaya atau tulen (asli) maka harus menjiwai secara variable atau dalam peneltian sering disebut berbagai macam macam nilai yang nyata secara garis besar akan menghasilkan nilai kualitas dan kuwantitas maka di dalam tulisan ini mengabungkan nilai ikatan degan berjuang secara autentik atau asli tulen tidak ada berkepura-puraan dan tetap akan berintlektual dan tetap memikirkan nilai kualitas dan nilai kwantitas pada setiap perkaderan. Maka seorang kader IMM yang dikatakan anak intlektual Muhammadiyah harus juga menjiwai sifat yang autentik asli tidak berkepura-puraan tidak kader seolah-olah. Sejatinya wujud Gerakan intlektual yang membumi dan autentik, yakni berdiri sendiri dan berdasar pada kemurnian, keiklasan dan ketulusan

Tradisi Intlektual Autentik

Tradisi Intlektual Kh Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan -sebagai founding father Muhammadiyah- dan jejak perjuangannya tidak gampang dihapus para ahli warisnya sebagai karya pemikiran serta perjuangan yang brilian. Sebaliknya, semangat tersebut harus menjadi warisan yang mengkristal dalam sanubari setiap anggota dan atau kader Muhammadiyah. cukup jelas hendak dibawa ke mana cita-cita Muhammadiyah tersebut. selain mencerminkan kebanggaan Muhammadiyah yang sejak 1912 hingga kini masih setia mendampingi masyarakat bangsa Indonesia dalam melintasi zaman (mulai zaman perjuangan kemerdekaan, zaman pergerakan nasional, zaman kemerdekaan, zaman pembangunan, hingga zaman reformasi), juga mencerminkan cita-cita atau harapan ideal untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai bagian dari peradaban utama manusia. Muhammadiyah tidak sekadar mendampingi, tapi juga membimbing, mendidik, mengarahkan, serta berupaya menjadikannya sebagai masyarakat utama.

Di akhir hayat nya satu pesan terlontar di anak nya beliau saat sakit keras memangil anak nya dan cucunya beliau berkata wahai anak cucuku bapak tidak punya apa-apa lagi harta benda bapak sudah habis semuanya sehingga bapak tidak bisa mewarisi kalian semuanya yang bisa bapak wariskan di kalian semua adalah Muhammadiyah jagalah Muhammadiyah hidupilah Muhammadiyah janganlah kalian mencari penghidupan di Muhammadiyah

Yang paling menonjol di Ahmad Dahlan adalah dalam berbuat kemanuasiaanya untuk masyarakat dari ketulusanya yang autentik dan hanya mencari ridha Allah SWT semata. Dan hidupnya beliau sangat sederhana ketulusanya dan berkerja keras, Menjalankan islam dengan selalu welas asih dengan menyeimbangkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan agar selaras menuju arah kebajikan.

Tradisi intlektual Hos Tjokroaminoto

HOS Tjokroaminoto, adalah gurunya para bapak bangsa dan mentor bagi pejuang yang lebih muda. Dari Soekarno, Kartosoewirjo hingga Musso, dari yang islamis hingga komunis, dari yang kiri sampai kanan. Dinyalakannya api keteladanan dihidupkannya degup jantung perjuangan, Tjokro membuka jalan bagi banyak sang pemula, Tjokro juga tempat banyak berharapnya rakyat jelata. Jika Tjokro pencetak pendiri negeri, bagaimana kini hidupnya bisa diteladani,

Trilogi petuahnya yang termasyhur adalah: “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.” Pesannya kepada Para murid-muridnya ialah “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator” Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak belajar pidato hingga membuat kawannya, Muso, Alimin, S.M Kartosuwiryo, Darsono, dan yang lainnya terbangun dan tertawa menyaksikannya. Lahir di desa Bakur, Madiun Jawa Timur 16 Agustus 1883, Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau H.O.S Tjokroaminoto adalah guru besar pergerakan modern Indonesia pada awal abad ke-20.

Menurut Tjokroaminoto: Peri-kemanusiaan adalah menjadi satu persatuan, begitulah pengajaran di dalam Qur’an yang suci itu, yang menjadi pokoknya sosialisme. Kalau segenap peri-kemanusiaan kita anggap menjadi satu persatuan, wajiblah kita berusaha akan mencapai keselamatan bagi mereka semuanya. Sabda Allah di dalam Al Qur’an memerintahkan kepada kita, bahwa kita “harus membikin perdamaian (keselamatan) di antara kita”. Lebih jauh di dalam al Qur’an ada dinyatakan, bahwa “kita ini telah dijadikan dari seorang-orang laki-laki dan seorang-orang perempuan” dan “bahwa Tuhan telah memisah-misahkan kita menjadi golongan-golongan dan suku-suku, agar supaya kita mengetahui satu sama lain”.

Tradisi Intlektual KI BAGOES HADIKOESOEMO

Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alasan-alasan ideologi, politis, dan juga intelektual. Ini nampak dalam upayanya memperkokoh eksistensi hukum Islam di Indonesia ketika ia dan beberapa ulama lainnya terlibat dalam sebuah kepanitiaan yang bertugas memperbaiki peradilan agama (priesterraden commisse). Hasil penting sidang-sidang komisi ini ialah kesepakatan untuk memberlakukan hukum Islam. Akan tetapi Ki Bagus dikecewakan oleh sikap politik pemerintah kolonial yang didukung oleh para ahli hukum adat yang membatalkan seluruh keputusan penting tentang diberlakukannya hukum Islam untuk kemudian diganti dengan hukum adat melalui penetapan Ordonansi 1931. Kekecewaannya itu ia ungkap kembali saat menyampaikan pidato di depan Sidang BPUKPKI.

 

Tradisi Intlektual Ki Bagoes Hadikusumo

Tradisi membaca, ki haji bagus kusumo adalah penjelajah dunia baca-membaca, kemampuanya menguasai Bahasa dari mulai Bahasa Indonesia, arab, inggris, dan belanda menjadikanya mampu menjelajahi luasnya dunia ilmu. Ki bagus banyak membaca buku, sampai-sampai beliau sampai sakit mata.

Tradisi menulis, menuangkan ide dan gagasan dalam tulisan merupakan hal yang langka bagi ulama pada waktu itu. Ki Bagus merupakan salah satu ulama yang selain gemar membaca dan mengkaji, beliu juga produktik dalam menuliskan gagasan dan ilmu keislamanya

Tradisi dokumentasi, walaupun jumlahnya terbatas, buku-buku karya bagus masih bisa didapati sampai saat ini.buku-bukunya dicetak oleh penerbit milik Muhammadiyah yang di dirikan olah AR Fachrudin.

3 tokoh diatas Sebagian dari orang yang mempunyai semangat yang autentik dan hanya Sebagian tokoh yang penulis tuliskan. 3 tokoh diatas merupakan sosok pemimpin yang amat baik, beliau patut kita jadikan teladan hidup kita. Intlektual yang diwariskan, merupakan upaya yang di lalkukan semasa beliau hidup. Maka pemikiran 3 tokoh intlektual di atas bisa kita jadikan acuan berberan sebagai akademisi muslim yang berkemajuan.

 

Garis ber-imm dalam aksiologi yang autentik

Sebagai kaum muda Muhammadiyah, IMM di harapkan mampu menjadi prototipe Gerakan mahasiswa yang ideal. Ideal dalam hal Gerakan dan kaderisasi. Berbagai gagasan dan ide-ide Gerakan baru yang mengemuka dalam berbagai ekspresi yang kadang (kebanyakan saat ini) lebih bersifat jangka pendek, seremonial, dan minim refleksi. Untuk itu IMM kemudian harus perlu melakukan tajdid dan purifikasi, sebagai tradisi Gerakan, tajdid dalam hal ini dengan mendirikan wacana-wacana yang actual, kreatif, dan mencerakan, dan purifikasi dengan upaya permunian ide-ide Gerakan (pengembalian) kepada nilai-nilai IMM dan cita-cita luhur kemanusiaan yang yang di gelorakan kh ahmad dahlan.

IMM mempunyai posisi yang sangat strategis bahkan core bai Gerakan determinasi Gerakan Muhammadiyah saat ini dan di abad mendatang. Karena IMM merupakan anak “intlektual” Muhammadiyah. Ikatan mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dititikberatkan dan fokus gerakanya untuk mengembangkan potensi intlektual. Untuk gerakan pencerahan tentu saja diperlukan pasukan-pasukan intelektual yang mempunyai semangat ideologis, memiliki kesadaran sosial yang tinggi, dan semangat berfikir kedepan, tanpa pasukan intlektual model ini, bila tidak begitu bukan tidak mungkin spirit tajdid dan Gerakan pencerahan di tubuh Muhammadiyah hanya tinggal papan nama yang ditempel di Gedung amal usaha Muhammadiyah.

Sebagai organisasi pergerakan dan perkaderan kita harus memahami IMM secara subtansial; dalam dimensi utuh, tidak bisa kita maknai IMM dalam bentuk artifisial atau penyimbolan saja. Di sinilah posisi IMM akan diuji, sebagai anak intlektual Muhammadiyah. Mampukah kader-kader IMM mengambil peran besar membantu Muhammadiyah dan bangsa membantu masyarakat dengan ilmu.

Maka kader-kader IMM harus melepaskan diri dari “romantisme” berlebihan terhadap symbol-simbol IMM, tapi nihil penjiwaan. Letupan dan teriakan “IMM JAYA, JAYA IMM” hanya tong kosong nyaring bunyinya jika tidak di iringi dengan semangat pembuktian terhadap nilai-nilai ke-IMMan dalam dimensi-dimensi keseluruhan. IMM akan jaya jika kader-kadernya menjiwai setiap simbol dan prinsip-prinsip IMM.

Lalu apa nilai-nilai, identitas atau prinsip-prinsip fundamental itu disini akan menjelaskan dua hal fundamental yang menjadi core dari esensi dan eksistensi, pertama IMM sebagai Gerakan intlektual, dan kedua imm sebagai Gerakan ahklak, dua hal ini sudah mewakili keseluruhan konsep-konsep IMM yang ada. Baik itu enam penegasan, tujuan IMM, trikopetensi dasar. Dasar ikatan. Profil kader

Pertama IMM sebagai Gerakan intlektual. Setidaknya sebagai Gerakan intlektual, kader imm harus menjunjung tinggi budaya membaca, menjunjung tinggi budaya diskusi, menjunjung tinggi tradisi menulis. Dan menyemarakan budaya meneliti.

Kedua IMM sebagai Gerakan akhlak, sebagaimana cita-cita awalnya, IMM lahir di Rahim Muhammadiyah menjalankan visi perbaikan akhlak di kalangan masyarakat kampus. Semangat historitas ini tidak boleh bergeser apalagi berubah bahwa IMM merupakan moral bangsa. Dan Pendidikan karakter bagi mahasiswa.

 

Kesimpulan

  1. Tidak ada suatu perubahan tanpa adanya transformasi intlektual
  2. Maka kader IMM niat hati yang sudah diikrar kan jangan sampai beruba menjadi niat hati yang telah di ingkarkan
  3. Maka kader dalam setiap berjuang harus memiliki niat yang autentik atau asli dalam hati tanpa ada berkepura puraan atau menjadi kader seolah-olah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Islami, B. (Director). (Dec 2, 2019). MUHAMMADIYAH, JEJAK AHMAD DAHLAN SANG PEMBAHARU eps 3 [Motion Picture].

KUSNO, A. W. (n.d.). Buku K.H Ahmad Dahlan: Nasionalisme & Kepemimpinan . yogyakarta: C-KLIK MEDIA.

Mulawarman, A. D. ( Galang Pustaka). Jang Oetama Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto. jatim: Galang Pustaka.

Notonegoro, A. S. ( 2010, Juli 02). Muktamar Seabad Muhammadiyah, 3-8 Juli 2010. Retrieved from Menghidupkan Tradisi Intelektual: http://muhammadiyahstudies.blogspot.com/2010/07/menghidupkan-tradisi-intelektual.html

Raditya, I. N. (2017). H.O.S. Tjokroaminoto Memadukan Islam dan Sosialisme. sega arsy.

Sani, M. A. (2017). Manifesto Gerakan Intelektual Profetik. surakarta: Muhammadiyah University Press (MUP).

Sholeh, A. (2017). IMM Autentik. pustaka saga.