Mari bagikan!

Berdakwah memang tidak kenal waktu, tempat dan situasi. Kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun setiap individu muslim memiliki kewajiban untuk menyampaikan dakwahnya sesuai kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Hal itu dibuktikan oleh Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3) Surabaya yang merupakan LSO (Lembaga Semi Otonom) Bidang Tabligh PC IMM Surabaya menyelenggarakan acara ‘Kelas Da’i’. “Acara ini tentunya mengikuti protokol kesehatan dengan memakai masker, pengecekan suhu dan penunjang kesehatan lainnya,” Ahmad Tsalist Alfian Selaku ketua pelaksana.  Dengan tema “Manifestasi Gerakan Da’i Muda Muhammadiyah menuju Bangsa yang Berkemajuan” di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, Ahad (14/2).

 

Dokumentasi saat Pembukaan Acara Kelas Da’i (Nur Anisah/immsurabaya.co)

 

Agenda tersebut dimulai sejak pagi hingga sore hari. 3 materi yang disajikan dengan pembahasan ontologi dakwah, metode pengambilan rujukan, serta strategi dakwah, Ahmad Tsalist Alfian.

“Apapun profesi kita wajib untuk berdakwah, mengajak bersama untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. Nah, dalam momentum ini kita dibekali berbagai macam ilmu seperti ilmu ontologi dakwah, metode pengambilan rujukan, dan strategi dakwah,” ucap Asep Budi Yanto salah satu peserta.

Jumlah peserta yang secara resmi mendaftar pada acara ini sebanyak 36 orang. “Kalau untuk peserta sendiri yang terdaftar seharusnya yakni berjumlah 36 orang. Akan tetapi ada 8 orang yang berhalangan hadir. Jadi yang mengikuti acara kegiatan kelas da’i ini terdiri dari 28 peserta,” ungkap Ahmad Tsalits Alfain.

Saat Pemateri Menyampaikan Materi. (Nur Anisah/immsurabaya.co)

Fakhruddin Lubis, Ketua Umum KM3 Surabaya memaparkan bahwa tujuan diadakannya kelas da’i ini adalah sebagai instrumen dalam menyiapkan atau regenerasi mubaligh/mubalighah di ranah mahasiswa muhammadiyah terutama untuk kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

“Kelas da’i ini adalah sebagai ganti daripada PM3 (Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah) yang terkendala karena pandemi sehingga mengharuskan untuk dipersingkat waktunya, dalam rangka mengurangi penyebaran covid-19,” imbuhnya.

Di samping itu, KM3 Surabaya mempunyai jargon dengan ciri khasnya, yaitu “wani ikhlas, wani cerdas, wani tuntas”. Makna dari jargon tersebut disampaikan oleh Zubaidi selaku Sekretaris Umum KM3 Surabaya.

“Wani ikhlas artinya kita menyelesaikan pekerjaan dan menyelesaikan persoalan dengan hati yg ikhlas. Kemudian wani cerdas (bermakna) kita berani untuk belajar, berani mengasah nalar kita agar menjadi orang yang cerdas. Dan wani tuntas (bermakna) kita berusaha meyelesaikan persoalan dan pekerjaan dengan semaksimal mungkin sampe tuntas,” pungkasnya. (Ai/nht)