Mari bagikan!

IMM pada dasarnya adalah wadah perkaderan sebagai pelanjut estafet perjuangan dakwah Muhammadiyah dan Islam. Oleh karenanya perkaderan menjadi proses vital dalam gerak dan langkah IMM, merencanakan serta mewujudkan perkaderan yang ideal adalah keharusan yang akan mengantarkan IMM pada kemajuan. Penting bagi seluruh pimpinan baik ditingkat pusat (DPP) sampai pada akar rumput (komisariat) memahami serta merealisasikan perkaderan dengan baik, benar dan sesuai kebutuhan zaman. Namun apakah IMM sudah mampu merealisasikan perkaderan yang ideal? ini yang harus kita evaluasi bersama.

Dalam ranah perkaderan tidak sedikit kita temui berbagai macam hambatan dan masalah, baik secara internal maupun eksternal, dan yang lebih parah lagi ketika pimpinan tidak mampu membawa visi serta arah perkaderan, sehingga apa yang terjadi? Banyak kader yang kecewa karena IMM tidak menyuguhkan apa yang kader butuhkan. Perkaderan cenderung meneruskan rutinitas serta progam-program peninggalan periode-periode sebelumnya akhirnya perkaderan monoton, membosankan dan terlihat layaknya sekedar formalitas belaka.

Perkaderan dan Penelitian

            Dalam benak kita sebagai kader pasti terbesit suatu pertanyaan, apakah pengertian perkederan di IMM? Dalam buku SPI (Sistem Perkaderan Ikatan)   Perkaderan Ikatan merupakan proses pembelajaran yang dilakukan oeh kader baik secara  bersama ikatan maupun ketika sudah berada diluar structural ikatan. Sebagai salah satu bagian dari gerakan kader dalam Muhammadiyah, orientasi perkaderan IMM mengarah pada terbentuknya kader yang siap berkembang sesuai dengan spesifikasi profesi yag ditekuninya, kritis, logis, terampil, dinamis dan utuh. Kualitas kader yang demikian ditransformasikan dalam tiga lahan aktualisasi yakni: persyarikatan, umat dan bangsa (SPI:2011).

Secara subtansial arah perkaderan IMM bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas akademik yang memadai sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman yang berakhlakul karimah dengan preoyeksi sikap individual yang mandiri, bertanggung jawab dan memiliki komitmen serta kompetisi perjuangan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Adapun falsafah perkaderan IMM yaitu mengembangkan nilai-nilai uswah, pedagogi kritis dan hikmah untuk mewujudkan gerakan IMM sesuai dengan falsafahnya yakni IMM sebagai gerakan intelektual.

Sebagai sebuah proses organisasi, perkaderan IMM diarahkan pada upaya transformasi ideologis dalam bentuk pembinaan dan pengembangan kader, baik kerangka ideologis maupun teknis manajerial. Dalam tahapan yang lebih praktis, akumulasi proses perkaderan diarahkan dalam rangka transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM disetiap level kepemimpinan.

Berdasarkan pengertian diatas perkaderan harusnya memiliki ideologi serta kecakapan intelektual sebagai amanah dari falsafah dan substansi perkaderan. Tugas pimpinan dalam setiap level wajib mengupayakan agar setiap kader IMM memiiki kecakapan tesebut. Bagaimana cara mentransformasikan kecakapan tersebut pada kader? Transformasi melalui program atau kegiatan yang dapat mengarah pada  peningkatan kualitas kader. Maka tidak boleh tidak pimpinan harus memiliki visi arah gerakan yang terukur dan tepat sasaran. Oleh karenaya penting sekali menerapkan riset atau penelitian sebelum menjalankan aktivitas perkaderan baik formal maupun kultural.

Menurut Wikipedia Riset atau penelitian adalah suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun dan sistematis yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan dan merevisi fakta-fakta. Menurut Hopskin WG (2002) riset adalah mengirimkan suatu pertanyaan atau isu serta menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan suatu masalah. Tujuan penelitian sendiri adalah untuk memecahkan masalah, meningkatkan llmu, melakukan penafsiran yang lebih baik dan menemukan fakta yang baru.

Hasil kajian penelitian yang mendalam dalam proses perkaderan IMM menghasikan fakta dan data yang menjadi landasan yang epistemig dan terukur. Muaranya  akan ber-efek positif terhadap kader karena akan sesuai dengan kebutuhan nyata seorang kader ikut IMM.

Penerapan Perkaderan Berbasis Penelitian

Selama ini perkaderan di IMM masih terlihat belum berdasar pada hasil kajian riset. Justru sebaliknya, banyak ditemui dalam perumusan perkaderan masih berdasar pada asumsi sehingga rumusan perkaderan pun tidak terukur dan tepat sasaran, mungkin inilah yang menjadi faktor kemandekan IMM baik secara gerakan maupun intelektual.

Rumusan perkaderan harusnya dievaluasi melalui kegiatan-kegiatan riset yang itu bisa dilakukan sendiri oleh kader IMM disetiap level kepempinan masing-masing. Perkaderan tidak melalu diisi sekedar dogma, romantisme serta rayuan kejayaan masa lalu. Karena IMM sebagai gerakan ilmu, kritis dan rasional, maka sudah seharusya perkaderan harus di dukung dengan data-data atau informasi yang valid dan reliable melalui pengkajian dan penelitian sebelum program diformulasikan. Hal ini berdasar pada metode-metode atau pendekatan-pendekatan yang  ilmiah dan sistematis. Sebelum merumuskan konsep perkaderan diperlukan langkah-langkah yang mendukung terciptanya perkaderan yang ideal dan berkualitas,

Inti dari tulisan ini adalah mengajak seluruh pimpinan IMM yang mengemban amanah disetiap level kepemimpinan masing-masing agar menerapkan penelitian. Menggeser perkaderan berbasis asumsi apalagi emosi kepada perkaderan berbasis ilmu. Saya yakin dengan begitu dapatlah IMM mencapai ke-JAYAannya.

Salam perkaderan

Jayalah Ikatanku

IMM Jaya

 

Oleh : Aziz Maulana (Ketua Bidang RPK PC IMM Kota Surabaya)