Mari bagikan!

 

RESOLUSI JIHAD LITERASI

NESTAPA KESADARAN KRITIS-IDEALIS UNTUK MEMBANGUN BUDAYA LITERASI

Oleh: Sholeh Prayogo, S.Sos


Selamat Datang Dalam Forum Penyelamat Literasi Indonesia!!

Begitulah sepantasnya saya ucapkan untuk memberikan sebuah aprisiasi positif terhadap forum Workshop Litersi Digital yang telah terselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngagel Surabaya kemarin itu. Forum yang mungkin bagi para pegiat literasi ini hal yang tidak asing lagi bagi mereka, namun menjadi sesuatu hal yang langkah bagi masyarakat umum yang terjebak ke dalam lembah digital. Bagaimana tidak, seperti yang telah dikemukakan oleh berbagai wacana di media massa maupun cetak, negara kita Indonesia menjadi negara nomor kedua terakhir dari 173 negara yang berurusan dengan literasi. Ini menjadi catatan penting bagi kita bahwa dalam urusan melek baca kita menjadi masyarakat terakhir yang sadar akan pentingnya membaca. Sadar ataupun tidak sadar kondisi seperti inilah yang harusnya cepat kita pahami bersama. Mengapa demikian? Karena kita hidup pada era informasi, di mana berbagai informasi semakin hari semakin deras (seperti halnya silkus makhluk hidup, informasi itu akan hidup, berkembang, dewasa, hingga akhirnya mati, dan hidup informasi baru). Jika kita tidak bijak dalam memilih informasi maka kita akan menjadi generasi pengikut berita hoax. Artinya, dalam era informasi ini dibutuhkan sebuah kesadaran khusus yang mampu untuk memilah informasi, yakni mengenai pentingnya menumbuhkan budaya literasi dalam diri kita.

Sejarah mencatat bahwa negara Indonesia bisa merdeka salah satunya berkat literasi juga. Soekarno dan Hatta, bapak proklamator kita mampu memerdekakan bangsa Indonesia salah satunya adalah lewat tulisan-tulisan radikal yang dikirim kepada pihak kolonialis.

Surat-surat bernada protes yang ditulisnya itu pun melahirkan buah pemikiran revolusioner yang jarang sekali digunakan oleh para pejuang kemerdekaan sebelumnya yang hanya mengandalkan perang sebagai bentuk perlawanan. Inilah yang menjadi persoalan di zaman kita sekarang, Bagaimana tidak? Sejarah telah membuktikan sendiri dengan literasi bangsa Indonesia dapat dimerdekakan. Ini pula menjadi suatu reflektif bagi kita sebagai generasi zaman now yang notabanenya masih belum memiliki kesadaran penuh akan pentingnya literasi tersebut. Rendahnya literasi merupakan masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa. Literasi rendah berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas bangsa. Literasi rendah juga berkontribusi secara signifikan terhadap kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan social ekonomi. Jadi, sangat jelas bahwa literasi ini bertujuan untuk memberantas buta huruf sekaligus mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam membaca buku.

Namun, tantangan ke depan tidaklah mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan tenaga khusus yang mampu menjadi pelopor akan pentingnya sebuah kesadaran literasi ini. Salah satu yang akan menjadi motor penggerak dalam membumikan gerakan literasi di tengah masyarakat ini adalah kaum intelektual atau bisa kita jabarkan bersama, kaum mahasiswa. Kaum Mahasiswa adalah kaum terdidik yang memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh kaum-kaum yang lain. Kemampuan itu disebuat sebagai kesadaran kritis-idealis. Mungkin agak asing di telinga kita, ini term yang bisa dibilang saya buat sendiri mengingat hakikat jati diri mahasiswa kian hari kian terusik oleh arus materialis zaman. Keadaran idealis ini adalah kesadaran murni yang didapatkan ketika seorang mahasiswa mampu untuk menemukan hakikat posisinya sebagai seorang mahasiswa. Seperti yang saya singgung di atas bahwa kesadaran kritis-idealis seorang mahasiwa telah terusik oleh kesadaran materialisme zaman. Gerakan-gerakan mahasiswa hari ini lebih cenderung kepada gerakan-gerakan popularisme. Gerakan yang tidak melambangkan hakikat

hidupnya sebagai seorang mahasiwa sehingga gerakan ini menciptakan apa yang bisa dikatakan sebagai budaya pragmatis. Budaya yang hanya memikirkan kalkulasi laba yang akan didapatkan secara pintas. Apalagi terkadang gerakan-gerakan ini seolah-olah dilegitimasi oleh ideology tertentu sebagai bentuk dari kemajuan zaman. Belum lagi, akhir-akhir ini sering kita menjumpai berbagai perubahan budaya mahasiwa yang dulunya mahir di depan perpus berubah menjadi mahir di depan warung kopi dengan game onlinenya.

Kesadaran kritis-idealis ini adalah lawan dari kesadaran pragmatis. Kesadaran kritis-idealis lahir secara murni sebagai sebuah kesadaran yang dilatarbelakangi oleh kondisi maupun situasi yang memungkinkan suatu keadaan untuk dirubah. Kesadaran ini pula yang dilandasi oleh rasa empati terhadap keadaan sekitar sehingga memungkinkan adanya bentuk keikhlasan dalam diri kita. Untuk mampu menumbuhkan kesadaran kritis-idealis mahasiswa sebagai bentuk konkrit dalam membumikan gerakan literasi tersebut, maka dibutuhkan tenaga yang cukup mengurus tenaga serta pikiran. Jika tidak, akan sangat riskan terjadi apa yang sudah saya katakana di atas. Mungkin yang harus dilakukan pertama adalah temukan orientasi dirimu sendiri itu seperti apa. Mengetahui posisi itu penting sekali karena akan mempermudah dalam bergerak sehingga ke depannya kita akan tau tentang keberadaan dari jati diri kita sendiri. Setelah itu lakukanlah apa yang mestinya kita kerjakan. Tentunya setelah kita temukan diri kita sendiri, langkah selanjutnya adalah melakukan gerakan dalam sebuah tindakan. Langkah terakhir inilah yang biasanya bias akan fenomena pragmatis karena sangat riskan terhadap ide-ide tersebut.

Mengapa mahasiswa perlu mempunyai kesadaran kritis-idealis untuk membumikan gerakan literasi pada era milenial ini? ……..

Menurut hemat saya, era milenial adalah era yang memungkin semua orang dapat melakukan apapun dengan mudah dan cepat. Zaman yang terus berubah dengan dasyatnya itu pun membawa dampak perubahan-perubahan signifikan dalam masyarakat. Perubahan-perubahan ini bukan sekedar perubahan teknologi semata, melainkan melibatkan perubahan kebudayan, kebiasaan, bahkan sebuah paham. Bisa jadi, perubahan ini bisa sebagai sebuah keberuntungan atau malah sebuah hambatan bagi kita. Maka dibutuhkan orang yang murni secara cerdas mampu untuk memiliki kesadaran kritis-idealis yang dapat membaca fenomena-fenomena yang telah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Orang inilah yang nanti bisa disebut sebagai kaum intektual atau sudah saya sebut di atas sebagai kaum mahasiswa. Dengan kesadaran tersebut kita akan menemukan bentuk kegiatan yang lahir dari kesadaran murni akibat dari kondisi dalam diri kita sendiri. Kita hidup di tengah-tengah realitas yang begitu banyaknya. Seolah-olah realitas itu menabrakkan diri kepada kita. Realitas itu akan bisa kita temukan secara hakikat dengan literasi. Dengan literasi akan mempermudah kita dalam memilah realitas yang kita jumpai tersebut. Dengan literasi kita akan menadapatkan berbagai informasi ataupun mengetahuan sehingga kita dapat menemukan berbagai persoalan dalam masyarakat secara teliti dan komprehensif. Mulailah dari hal yang paling kecil dalam hidup kita dengan mendengar berita di tv ataupun membaca artikel ilmiah satu hari satu kali. Jika dalam membaca itu adalah menjadi persoalan penting bagi mahasiswa, maka dibutuhkan obat khusus untuk membangkitkan gairah membaca tersebut. Obatnya adalah paksa kemalasan kita menjadi sebuah semangat perubahan. Dengan memaksa kemalasan menjadi sebuah kesadaran perubahan maka akan terciptanya hakekat dari kita memahami literasi tersebut. Gerakan membaca minimal 15 menit dalam sehari pun bisa dilaksanakan. Ini penting untuk dilakukan sebagai modal awal kita dalam membangun kesadaran pentinya literasi bagi kita dan juga bangsa kita sendiri. Jangan menjadi mahasiswa pembaca instan yang hanya sekedar membaca tanpa dibarengi oleh proses internalisasi terhadap diri kita. Ataupun menjadi mahasiswa plagiaris yang berlebihan yang justru dapat mencoreng harga diri seorang kaum intelektual sebagai motor penggerak literasi. Jika kita merdeka berkat

literasi yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan kita di masa lalu maka mengapa tidak untuk di masa sekarang ini kita merdeka secara fikir untuk kecerdasaandan kemajuan rakyat bagi bangsa dan negara Indonesia.