Mari bagikan!

Kini sedang hangat diperbincangkan yakni kebijakan new normal life dengan membuka kembali aktivitas ekonomi menjadi sasaran pengampu kebijakan. Pernyataan yang disampaikan oleh presiden RI bahwasanya rakyat Indonesia harus hidup berdampingan dan berdamai dengan covid-19 agar tetap produktif sampai vaksin ditemukan. Masyarakat diminta bersiap menjalani normal baru di tengah situasi pandemi ini. Berdamai dalam artian tidak putus asa namun melawan dengan beraktivitas normal tapi tetap mematuhi protocol kesehatan yang sudah ditetapkan. Tetap jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan. Namun yang menjadi pertanyaan apakah corona juga ingin diajak damai ? , bagaimana jika tidak ?. Bukankah definisi berdamai adalah kesepakatan kedua belah pihak.

Alih-alih memikirkan apakah si corona mau diajak damai. Pemerintah telah mengeluarkan aksi damainya dengan akan memberlakukan new normal. Tentu wacana ini menimbulkan pro dan kontra di berbagai kalangan. Ada yang menyebutkan sebagai wacana yang tidak mendasar tanpa melihat data dan kurva penyebaran covid-19. Dilain sisi kubu pro menyatakan kita memang perlu terbiasa dengan pandemi ini. Sampai kapan kita akan bersembunyi dirumah. Sehingga banyak masyarakat yang mulai beraktivitas seperti biasanya.  Akhir-akhir ini masyarakat mulai beraktivitas seperti biasa. Bandara banyak didatangi, pusat perbelanjaan mulai dikerumuni banyak orang.

Welcome New Normal life!

Sebelum wacana new normal benar-benar ada didepan mata, penulis rasa semi-semi new normal sudah diterapkan diberbagai tempat. Bahkan dimulai dari kebijakan kelompok usia dibawah 45 tahun diperboleh beraktivitas sampai wacana relaksasi. Secara tidak langsung negara sudah melakukan uji coba pada masyarakatnya. Aktivitas seperti biasa atau kerumunan sudah terjadi dimana-mana. Kejadian kerumuman diberbagai tempat yang kita saksikan beberapa hari yang lalu misalnya penutupan McD Sarinah, penumpukan penumbang di bandara soekarno hatta Mall yang dibuka kembali. Masyrakat mulai beraktivitas seperti biasa

Hal ini  imbas kebijakan pemerintah membuka kembali mode transportasi termasuk pesawat terbang.   Mungkin yang belum hanya disektor pendidikan, pariwisata dan sebagian sector lainnya. Serta hal serupa yang terjadi diberbagai tempat umum. Lantas muncul pertanyaan di benak punulis. Katanya harus tetap mematuhi protocol kesehatan. Namun kenyataanya kerumumann tanpa protocol ketat ditempat umum marak terjadi akhir-akhir ini. Bagaimana nanti jika diberlakukan new normal, akankah akan sesuai protocol kesehatan yang ketat ?

Antara Merasa Kebal Atau Bebal 

Kerumunan yang terjadi di berbagai tempat beberapa hari ini membuktikan bahwa semakin hari masyarakat merasa kebal atau mungkin bebal. Bukan lagi kebal dengan virus namun kebal dengan kebijakan pemerintah. Bahkan mungkin sudah merasa sebal dengan kebijakan pemerintah. Hingga akhirnya merasa bodo amat dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Memang tidak dapat dipungkiri susah menghilangkan kebiasaan “bergerombol” di Indonesia, karena pada dasarnya kita dilahirkan dengan tingkat sosial yang tinggi, berbeda dengan di negara-negara lain. Kerumuman yang terjadi di akhir-akhir ini menimbulkan kekhawatiran di sebagian kalangan masyarakat khususya tenaga kesehatan. Banyak tagar #Indonesiaterserah bermunculan dimedia sosial setelah banyaknya masyarakat yang mulai beraktivitas normal. Ada yang merasa dikhianati karena sudah hampir dua bulan #dirumah aja mematuhi peraturan pemerintah terasa sia-sia. Selepas wacana new normal terdengar oleh masyarakat, tentu masyarakat sudah mulai goyah dengan komitmen tinggal dirumah.

New Normal : Secercah Harapan Pekerja Informal

Sebelum penulis menyelesaikan tulisan ini sedikit berdiskusi dengan teman, dan menemukan sudut pandang berbeda menyikapi wacana new normal ini. Pernyatan dari teman, jika PSBB di perpanjang dan tidak dilakukan new normal mungkin golongan menengah keatas masih punya harapan untuk melanjutkan hidup, sementara yang golongan menengah kebawah lambat laun akan mulai frustasi karena tidak tau cara memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan cara apa, ini yang sebenarnya harus diperhatikan pemerintah.

Memang melihat kompleksitas masalah perhari ini tentu menjadi dilema ketika melihat covid-19 menghampiri Indonesia. Semua aktivitas terbengkalai, ekonomi berantakan. Kebijakan PSBB tidak dapat dipungkiri mempengaruhi ekonomi masyarakat khususnya pekerja informal yang memerlukan interaksi sosial dalam pekerjaannya. Karena  pekerja Indonesia masih didominsi pekerja informal. Data Departemen Ekonomi CSIS (2019), sekitar 40 % bekerja disektor formal, artinya 60% bekerja disektor informal (UMKM).

Data BPS 2019 jumlah pekerja formal sebanyak 55.272.968 pekerja dan jumlah pekerja informal sejumlah 74.093.224. Belum lagi angka kemiskinan di negara ini, meskipun menurut BPS (2019) dari periode maret-september angka kemiskinan turun baik di kota maupun desa. Jumlah penduduk miskin per semtember 2019 sebanyak 24,79 juta jiwa  adapun tingkat kemiskinann sebesar 9,22%. (BPS, 2019). Dimana dalam PSBB  ini bisa dibayangkan bagaimana golongan menengah kebawah bertahan hidup. Siapa yang akan bertahan dan siapa yang pelan-pelan putus asa bertahan.

Lantas New Normal Solusi atau Destruksi ?

Terlepas dari pro kontra new normal di negeri ini.  Menurut hemat penulis new normal bahkan relaksasi PSBB untuk saat ini belum bisa menjadi solusi lebih tepatnya tidak cukup menjadi solusi. Ketika semua orang mulai beraktivitas seperti biasa, bukan tidak mungkin proses penyebaran dan angka terinfeksi bahkan meninggal akan meningkat. Meskipun diarahkan dengan protocol kesehatan.  Pemberlakukan kebijakan baik new normal maupun relaksasi PSBB harus benar-benar dikaji dengan seksama serta dengan upaya-upaya antisipatif. Bisa dikatakan belum saatnya untuk new normal. Karena kurva belum memunculkan kelandaiannya.  Jangan sampai alih-alih ingin new normal akhirnya  abnormal.

Bukan hal yang tidak mungkin juga akan menjadi destruksi generasi muda. Akan terjadi klaster-klaster baru (misalnya) dari sekolah, terjadi potensi peningkatan kasus infeksi covid-19 pada anak dan juga berpotensi menularkan kepada keluarga di rumah. Tentu asumsi ini bisa saja terjadi. karena kita lihat kurva penyebaran covid-19 masih meningkat dari hari ke hari. Perlu pertimbangan-pertimbangan yang harus diperhatikan misalnya dilapangan rumah sakit mulai overload, tenaga medis kewalahan dan satu persatu tenaga medis gugur dalam perang tanpa asap ini..

Perlunya kerjasama dan koordinsi lintas sektoral. Perlunya edukasi kepada masyarakat bagaimana proses new normal diberlakukan. Sehingga tidak terjadi keresahan atau bahkan sampai masyarakat merasa bodo amat dengan kebijakan pemerintah.  Penulis teringat dengan perkataan teman diskusi “Seketat-ketatnya peraturan pemerintah, kalau masyarakatnya terlalu bodoh amat juga tidak akan ada efeknya dengan kebijakan apapun. Kalau aparat terlalu keras netizen pada teriak-terik melanggar HAM. Memang serba salah”. Berdoa saja supaya covid -19 segera menjadi penyakit yang hanya perlu di waspadai tanpa perlu di takuti.

SELAMAT DATANG NEW NORMAL. Akhirnya alam yang akan menentukan siapa saja yang berhak hidup dan mendapatkan kehidupan tentu dengan ikhtiar, doa dan tawakal.  Karena yang sehat belum tentu tetap hidup dan yang sakit juga belum tentu akan mati. Yang kaya belum tentu bertahan dan yang miskin belum tentu putus asa. Seleksi Alam begitulah sebutannya. Kita semua tidak tau dan meraba-meraba apa yang menjadi rencana negara kedepan. Vika Ramadhana Fitriyani (Bendahara Umum PC IMM Kota Surabaya)