Mari bagikan!

Semunaya marah hanya iblis yang terbahak, inilah ungkapan yang saya rasa tepat dari salah seorang novelis besar nusantara. Menyangkut hal demikian, kondisi bangsa belakangan yang telah kita rasakan, adalah adanya geliat konflik suku, agama, ras dan antar golongan /SARA, yang seolah menjadi biang persoalan dan tak menenui redanya. Akan tetapi secara pribadi bolehlah berpendapat, bukan lantas percaya begitu saja akan yang nampak-nampak tersebut, tiada lain secara mengakar bisa jadi adalah persoalan perut dan kekuasaan. Meminjam sebuah teori konflik dalam teori-teori sosial, di dalamnya menegaskan bahwa dasar prilaku manusia bukanlah lantas bisa ditentukan oleh aturan dan nilai-nilai, melainkan adalah rasa ingin setara, orang-orang yang menganggap dirinya tidak beruntung akhirnya tidak mau diam saja dengan senantiasa menerima keadaan – (Pip Jones, dkk., 2016: 17). Akhirnya sebuah profetik kedaulatan saya rasa perlulah masih mengakar dalam kehidupan bangsa-bangsa sekarang ini, di hari yang bertepatan dengan kelahiran sang Nabi besar uamat Islam. Semoga.

Sang Muhammad bin Abdullah, adalah pembawa ajaran salah satu agama besar dunia, adalah juga yang dipercayai sebagai Nabi sekaligus Rasul terahir bagi umat manusia, yang dalam sejarah-sejarah dunia bahwa seringkali beliau disebut sebagai tokoh yang paling berpengaruh. Jika kita baca dari uraian atau tulisan yang menjelaskan riwayat kehidupan-nya, bisa disimpulan bahwa beliau adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan yang luar biasa baiknya, dalam mengemban misi spiritual maupun kemasyarakatan. Telah di jelaskan oleh salah seorang sejarawan kelas dunia H. G. Wells (2013) di  dalam salah satu bukunya, bahwa Muhammad ialah sosok yang telah mampu mengelola bangsa yang awalnya sangat menampakkan corak egositis, barbar dan terpecah belah oleh sentiman kesukuan. Menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan kemiliteran, bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi yang saat itu merupakan negara yang memiliki kekuatan terdepan militer dunia.

Sehingga atas segala contoh pencapaian tersebut, jika disinggungkan dengan kondisi bangsa Indonesia belakangan ini, ialah telah menampakkan situasi genting atas berbagai persinggungan saudara sebangsa bahkan antar umat beragama sekalipun. Bagi kalangan awam mungkin tiada bisa melihat, mengapa kondisi ini bisa sedemikian rupa, akhirnya dengan ikut larut pada polemik dan gaduh yang tak di tahu-menahu sebabnya. Akan tetapi bagi meraka yang teliti dan jeli, adalah dengan menyentuh persoalan agama, etis dan budaya, sebagai bangsa timur yang tentu perkara keyakinan dan agama adalah memiliki pengaruh kuat didalam masyarakat, ternyata inilah yang menjadi sasaran empuk bagi bangsa-bangsa perkasa jika ingin menguasainya. Dikenalilah sekarang ini, sebuah istilah politik pecah belah (devide et impera), sebuah politik adu domba yang bertujuan untuk mendapatkan dan menjaga kekuasaan (negara perkasa), dengan cara memecah belah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil dan akhirnya agar lebih mudah ditaklukkan dan dikuasai.

Oleh kerena itu, mohon sekali perlu padamkanlah api egoisme masing-masing, perlulah digali bersama kembali, atas dasar konsensus apa atau dalam rangka apa para pendiri bangsa dahulu sangat begitu menginginkan persatuan serta kesatuan bangsa, ialah situasi tercapainya kemerdekaan, kemerdekaan yang tiada cuma berbentuk terproklamirnya sebuah negara. Akan tetapi pada hal yang lebih esensial, ialah bangsa Indonesia yang telah terlepas dari perpeloncoan negara penjajah dan penindas. Mungkin ini sangat manfaat, saya pernah membaca dari salah satu buku penting dalam sejarah hingga terwujudnya negara Indonesia. Perlulah diinsyafi/diketahui bersama dahulu disini, bahwa syarat akan hidup dan matinya sebuah negara ialah bergantung pada beberapa hal diantaranya: soal persenjataan, perindustrian, letaknya negara, persatuan, semangat rakyat, kecerdasan dan lain sebagainya. Di antara syarat-syarat tersebut adalah soal perindustian, ialah yang menjadi putusan utama atas keberlangsungan hidup negara, yang kuat perindustrianya itulah pihak yang mesti menang. Atas syarat tersebut, negara perlulah sebuah aktifitas, sehingga perkakas seperti pesawat, mobil, kereta, dan sebagainya harus dibuat dari besi dan baja, dan digerakkan dengan energi minyak tanah. Jikalau tiada besi baja dan minyak tanah tersebut, tentulah pesawat tiada bias naik, tank dan mobil tiada bisa berlari, kapal selam tiada dapat melaju. Syahdan, kehidupan  negara akan lumpuh.

Akhirnya disinilah kita temukan hujung kenapa pulau nusantara perlu diusik, dalam penjelasan buku tua tersebut, pun dijelaskan bahwa tiada negara di dunia ini yang letaknya lebih beruntung dari letaknya Indonesia, lihatlah kekayaan buminya, bahan besi yang paling banyak dan paling baik sifatnya, tambang besi di Malaka, Sulawesi dan Kalimantan. Minyak tanah di Sumatra, Kalimantan, dan irian, semua telah terdengar diseluruh dunia, bauxite dan alumunium berada di riau, serta benda-benda lain seperti: timah, getah dan kopra (buat bom TNT yang dahsyat adalah dari minyak kelapa), semuanya bisa didapati di Indonesia. Bahkan sampai-sampai seorang pengarang buku di amerika berani meramal, kalau suatu negara seperti amerika mau mengusai samudra dan dunia, dia mesti rebut Indonesia lebih dahulu untuk membuat sendi kekuasaannya – (Tan, 2014: 28). Begitulah kurang lebih terangnya dalam buku itu, atas sebuah pembacaan yang tentu bagi saya pribadi sangatlah relevan dengan melihat kenyataan adanya. Akhirnya, pun situasi ini telah menjalar pada sebuah keresahan yang pernah diungkapkan oleh salah seorang penyair senior dalam salah satu karya megafenomenalnya, ‘Mastodon dan Burung Kondor’ – WS. Rendra, dengan bait naskah yang beginlah kurang lebih terangnya.

 

‘Wahai tanah airku, alangkah subur lembah-lembahmu namun alangkah melarat rakyat-raktyatmu. Penderitaan mengalir dalam parit-parit dari wajah rakyatku, mereka mengerjakan usaha, tetapi akan buahnya mereka tidak punya hak memakai apapun, tidak punya hak memilikinya. Dari pagi sampai siang, rakyat negeriku bergerak-gerak mengapai-gapai, menoleh ke kanan, menoleh ke kiri dalam usaha tak menentu. Dari siang sampai sore mereka jadi onggokan sampah. Dan didalam malam hari mereka terbanting dilantai dan sukmanya menjadi burung kondor.’

 

Sehingga perlulah kita kembali mencermati, bagaimana sebuah konsensus bersama hingga sampai pada berdirinya negara ini dahulu, dengan rasa perasaan hati yang secara bersih dan tenang. Bahwa suasana geliat konflik SARA ini jikalau senantiasa terus berlanjut, tiadalah menghantarkan serta mendapatkan pada suatu kemanfaatan barang seculipun bagi kita bersama, yang ada hanyalah timbulnya beribu korban rakyat atau masyarakat bawah yang tiada tahu-menahu hujung persoalannya, mereka menjadi korban, benar-benar korban atas suatu kekuatan kepentingan yang tak nampak-nampak guna meluluhkan kekuatan bangsa, guna mengendalikan suatu kepentingan negara-negara perkasa yang hendak merampok kekayaan sumber daya Negara. Mungkin saya bisa salah, tetapi cobalah kita lihat situasi sejarah sejak lahirnya bentuk ketatanegaraan modern negara bangsa (nation state), pada mulanya suatu konflik dunia ialah lahirnya bentuk ekspansi antar bangsa, berlanjut pada konflik antar dua kekuatan ideologi besar dunia, kapitalisme dan sosialisme, dan hingga puncaknya ialah semenjak runtuhnya salah satu negara adikuasa Uni Soviet yang berideologi sosialis komunis pada awal tahun 1990-an, nyatalah kekuatan dunia telah dipegang oleh nagera perkasa yang berwatak kapitalisme tamak. Bagaimana tidak, kekuatan negara perkasa tersebut hingga mampu secara cepat telah menghegemoni dunia, sehingga negara AS seolah-olah adalah negara yang pautut menjadi contoh bagi negera diseluruh dunia, terhadap lembaga politik, sosial, budaya, hingga ekonomi dunia.

Kalau akhir-akhir ini kita mendengar bangaimana konspirasi bahaya laten komunisme yang telah mencoba bangkit kembali, pada sisi yang lain kita juga mendengar sekaligus menyaksikan warta-warta bagaimana kejamnya aksi terorisme yang dilakukan oleh salah satu kelompok uamat beragama, dengan sangat bertendensi pada ulah kebanyakan yang dilakukan oleh umat Islam. Tentu ini menjadi suatu cara bagi mereka, bagaimana bangsa ini hanya akan disibukkan pada saling memiliki rasa perasaan curiga satu sama lain, kebencian satu sama lain, yang akhirnya saya secara pribadi berkesimpulan, mungkin saya bisa salah. Bahwa bagi saya yang paling berbahaya ialah, bukan lagi momok komunisme atau terorisme, akan tetapi momok yang lebih serius dan bengis pada paruh abad terahir ini atas kemenangan ideologi kapitalisme tamak diatas, ialah yang saya sebut bahaya laten ‘konsumerisme’, munculnya ruang sosial baru yang memiliki tabiat pemakai secara berlebihan dalam masyarakat, hingga mengahantarkan manusia-manusia dewasa ini menjadi asing atas dirinya sendiri, atas kodrat dirinya yang sebagai manusia, sebagai khalifah dimuka bumi.

Sebagaimana yang diterangkan oleh salah satu tokoh progresif dalam dunia sosial yang saya baca pada salah satu buku, singkatnya beliau mengatakan bahwa manusia dewasa ini telah diasaingkan dari produk pekerjaanya, kegiatan produksi, sifat sosialnya sendiri, dan rekan-rekanya, dan dia hanya akan merasa atas dirinya sendiri, sebagai manusia, ialah pada saat istirahat dirumah, makan, minum, dan berhubungan badan, persis sebuah tabiat binatang. – (T.Z. Lavine, 1984: 13). Akhirnya manusia-manusia telah menciptakan situasi yang begini tamak, yang saling berebut kekayaan secara bengis satu-sama lain, pembanguan yang berorientasi pada penumpukan, bukan pengedaran serta pemerataan. Dus, muncullah fenomena korupsi, penipuan, kekerasan, penindasan, penggusuran, dan kemiskinan yang terus melilit bagi pihak yang lemah. Bukankan kita telah sama-sama sepakat jikalau dikatakan bahwa kemiskinanlah yang akhirnya mendekati segala macam bentuk kemusyrikan, kemaksiatan, pun juga segala macam konflik persatuan bangsa yang tentu sangat membahayakan. Kesemuanya ini tentu sangat kontras dari apa yang telah dicontohkan sang Nabi besar Muhammad SAW. Atas keberhasilan yang luar biasa baiknya dalam mengemban misi spiritual maupun kemasyarakatan. Semoga bermanfaat.

Surabaya, 30 November 2017

Milada R.A.