Mari bagikan!

Oleh : Amin Rais

Sekbid Hikmah PK IMM Kaizen UMSurabaya

Corona Virus Disease (COVID-19) telah dinyatakan sebagai pandemi dunia oleh WHO (WHO, 2020). Coronavirus adalah zoonosis atau virus yang ditularkan antara hewan dan manusia. Virus dan penyakit ini diketahui berawal di Kota Wuhan, Cina sejak Desember 2019.

Kini korban virus corona masih terus bertambah, kasus Covid-19 di Indonesia belum mengalami penurunan yang signifikan. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan (Kemenkes) pada Selasa (26/05/2020), terdapat 415 kasus baru dengan total 23.165 pasien positif corona di seluruh tanah air. Setelah berbagai macam percobaan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, di hari yang sama pemerintah meminta masyarakat untuk berdamai dengan corona atau rencana kebijakan pelonggaran aktivitas sosial (New Normal).

Mewabahnya kasus Covid-19 merubah tatanan kehidupan dari berbagai aspek bidang kehidupan seluruh masyarakat dunia. Kemunculan kasus tersebut menimbulkan reaksi cepat dari seluruh lapisan dunia dan Negara Indonesia tidak luput dari mewabahnya kasus tersebut. Mengamati dari berbagai argumentasi pihak berwenang bahwa Covid-19 merupakan salah satu penyakit yang berbahaya dan mematikan serta daya nularnya mudah dan cepat. Menyikapi mewabahnya penyakit tersebut memang dibutuhkan satu kebijakan yang komprehensif dalam menanganinya sehingga laju penyebaran bisa ditekan dan masyarakat yang sudah terkena Covid-19 bisa ditangani dengan baik.

Kebijakan Pemerintah dan Dampak Sosial Bagi Masyarakat

Sangat menghawatirkan, ketika kebijakan Negara tidak berpihak kepada masyarakat. Sementara dampak perekonomian bagi kelompok menengah ke bawah akan sangat besar. Ekonomi mereka yang setiap harinya hanya ditopang oleh pendapatan pada saat hari itu juga mereka bekerja. Kini pemasukan menjadi sangat rentan, karena ketika mereka tidak bekerja, maka pendapatan mereka juga tidak ada dan kebutuhan mereka juga banyak.

Pemerintah sebagai pemilik otoritas lebih baiknya mengevaluasi kembali percobaan kebijakan yang telah dijalankan dalam penanganan dan penanggulangan Covid-19. Sampai hari ini, apa yang telah dilakukan pemerintah dalam mengatasi Covid-19 belum memberikan dampak terhadap penurunan kasus penularan virus corona. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah belum tepat dalam hal penanganan berdasarkan kendala teknis yang terjadi di lapangan.

Pilihan apapun yang diambil pemerintah dalam menyikapi mewabahnya Covid-19 pasti akan memiliki konsekuensi yang akan berdampak pada aspek kehidupan masyarakat. Pada konteks tulisan kali ini saya mencoba menguraikan beberapa dampak sosial akibat mewabahnya Covid-19 dan berbagai langkah yang perlu diambil pemerintah, masyarakat, dan mahasiswa untuk mengatasi semua hal itu.

Dampak Ekonomi

Memang luar biasa dampak ekonomi penyebaran virus corona. Sudah berapa banyak karyawan yang di PHK ? Sudah berapa berita tentang keluarga yang kesusahan bertahan hidup di tengah pendemi ? Kesulitan dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup akibat tidak mempunyai penghasilan menjadi hal yang dihadapi masyarakat. Ditambah lagi dengan menumpuknya beban keluarga terhadap biaya yang harus terus berlanjut seperti cicilan kredit, tanggungan air, listrik, dan lain sebagainya.

Ketika pemerintah belum memberikan kebijakan yang tepat kepada kalangan masyarakat, hal ini yang tidak kita harapkan bersama. Oleh karena itu, berbagai persoalan terhadap kerawanan sosial, harus segera dipikirkan bersama.

Masyarakat Pengangguran

Dengan kondisi pengangguran yang demikian masif, kerentanan terhadap kemiskinan akan semakin tinggi. Peluang berganti profesi secara cepat tidak mungkin dilakukan karena hal itu sangat berkaitan dengan modal dan peluang. Akhirnya, masyarakat pengangguran itu akan pasrah, tidak bekerja, dan tidak mendapatkan penghasilan untuk pemenuhan kebutuhan.

Pertanyaannya adalah, mau bertahan sampai berapa hari atau berapa bulan ? Mungkin pada awal-awal pengangguran masih bisa dikuatkan dengan sedikit tabungan yang mereka miliki. Tetapi, minggu kedua dan selanjutnya mungkin mulai menggadaikan seluruh barang berharga miliknya. Selanjutnya hal ini menjadi sangat rawan terjadinya berbagai tindak kejahatan yang tentu kita bersama tidak menginginkan dan jangan sampai itu terjadi.

Kondisi Kesehatan Fisik dan Psikis Masyarakat Mengalami Penurunan

Akibat mewabahnya Covid-19 bukan tidak mungkin ada masyarakat yang mengalami kondisi seperti ini jika situasi atau pikiran yang membuatnya merasa putus asa, gugup, marah, dan perasaan lainnya yang mengganggu psikologis.

Terlebih lagi kesehatan fisik dan psikis masyarakat yang terjadi akibat manganggur, tentu akan menjadi sangat terganggu. Kemampuan masyarakat untuk berfikir logis menjadi semakin menurun. Mereka menjadi lebih banyak berfikir, bagaimana mendapatkan penghasilan dengan cara yang halal.

Ditambah lagi beban tagihan yang dialami masyarakat, ketika pendapatan masyarakat menurun, tentu akan berdampak pada menurunnya tingkat kesehatan masyarakat karena asupan gizi dan kebutuhan semakin menurun.

Langkah Strategis Yang Perlu Diambil

Krisis ekonomi keluarga, akibat tulang punggung kesulitan mencari penghasilan bahkan menganggur. Berbagai upaya keluarga telah dilakukan. Tetapi, jalan keluar belum ditemukan. Susu anak-anak harus terbeli, dapur harus tetap mengepul, sumber listrik dan air harus berlanjut. Maka sebelum terjadi kerawanan sosial yang menimpa masyarakat, perlu berbagai langkah antisipasi.

Rantai pasokan pendapatan rumah tangga telah terputus. Ekonomi kian meredup, dan potensi pendapatan rumah tangga mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Berbagai langkah yang perlu diambil pemerintah dan keikutsertaan peran mahasiswa dalam menjalankan fungsinya di tengah pandemi untuk mengatasi semua itu antara lain :

Pertama, kesadaran mahasiswa untuk menyampaikan suara masyarakat dan meminta kepada pemerintah sebagai pemilik otoritas untuk mempersiapkan respon kebijakan kesehatan masyarakat yang kuat, dengan menambah jumlah rumah sakit yang siap menangani virus corona jika ingin hidup berdamai dengan corona mengingat rencana pelonggaran aktivitas sosial menuju a new normal. Serta menyiapkan mekanisme di RS, mulai dari alat kesehatan dan termasuk semua sarana dan prasarana untuk mengatasi virus corona harus sudah didistribusikan ke seluruh rumah sakit yang ditunjuk.

Kedua, peran mahasiswa sebagai sosial control yaitu mahasiswa diharapkan mampu menjadi pengontrol sebuah kehidupan sosial pada masyarakat dengan cara memberikan saran, kritik, serta solusi untuk permasalahan sosial masyarakat maupun permasalahan bangsa. Maka perlu jika mahasiswa mengambil perannya dan meminta kepada pemerintah untuk memberikan akses kesehatan gratis kepada semua orang yang hendak memeriksakan diri dan berobat karena terkonfirmasi virus corona.

Hal ini sangat penting, jangan sampai terdapat masyarakat yang sudah terindikasi memilih tetap bertahan di rumah karena takut akan bayangan mahalnya biaya pengobatan rumah sakit. Layanan masyarakat terhadap publikasi kebijakan ini harus selalu didengungkan melalui berbagai media massa.

Ketiga, sebagai mahasiswa yang selalu ingin membawa perubahan, selalu bersinergi, berpikir kritis, dengan kerelaan dan keikhlasan untuk menjadi pelopor, penyampai aspirasi (baik kepada pemerintah maupun publik), dan menjadi pelayan masyarakat. Maka perlu jika mahasiswa mengambil perannya dan meminta kepada pemerintah untuk memberikan stimulus bagi rumah tangga. Ekonomi kreatif tingkat rumah tangga harus dimarakkan. Produk barang dan jasa skala rumah tangga yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat lainnya diharapkan dapat disemarakkan sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat miskin dan rentan.

Dapat dinyatakan secara tegas bahwa ekonomi rumah tangga selama pandemi mengalami penurunan. Mahasiswa dapat mengambil perannya dengan menjadi penyampai produk atau usaha yang dimiliki masyarakat kepada publik untuk tetap bisa bertahan hidup, semisal memasarkan dagangan produk masyarakat lewat berbagai sosial media. Dan program ini dapat menjadi gebrakan produktivitas mahasiswa dalam menjalankan fungsi mahasiswa di tengah pandemi.

Keempat, pemerintah perlu membuat terobosan biaya rendah untuk semua layanan publik bagi seluruh masyarakat. Meningkatkan jaring pengaman sosial (JPS), serta menyiapkan berbagai stimulus yang sifatnya tidak tunai tetapi bisa dinikmati oleh semua masyarakat miskin.

Kelima, pemerintah harus memberikan pinjaman kredit dengan bunga rendah bagi pelaku usaha serta pemerintah harus memberikan keringanan pajak untuk jalur ekspor-impor. Ditambah lagi dengan kesadaran pemerintah untuk memberikan potongan kredit listrik, air, dan kendaraan yang digunakan sebagai penggerak roda ekonomi yang sudah lama dicicil, jangan sampai kendaraan mereka akan hilang ditarik penagih biaya kreditan.

Keenam, pemerintah tetap mendorong pertumbuhan ekonomi sebagai pemulihan ekonomi yang menurun akibat penyebaran virus corona, menjaga stabilitas harga, menciptakan lapangan kerja produktif, menjaga iklim investasi, menjaga regulasi perdagangan, memacu pertumbuhan sektor pertanian, dan mengembangkan infrastruktur wilayah tertinggal. Lebih dari itu semua yang juga perlu dilakukan oleh pemerintah adalah keberanian untuk menasionalisasi aset asing yang ada di Negara kita. Karena sesungguhnya kekayaan alam kita jika dikelola dengan baik dan betul-betul diperuntukkan untuk sepenuhnya kepentingan rakyat Indonesia, masalah ekonomi yang dihadapi oleh kita akan terselesaikan. Ini perlu upaya kesadaran semua para politisi yang hari ini memangku kebijakan baik di eksekutif ataupun di legislatif.

Menuju New Normal

Kehidupan new normal saat ini marak digaungkan untuk memberikan perubahan dan norma baru dalam pencegahan dan penanggulangan Covid-19. Mahasiswa penting untuk merespon dan menilai kebijakan pemerintah yang sebelum-sebelumnya dijalankan dalam menyikapi Covid-19 yang dirasa belum memberikan kebijakan yang tepat dan beberapa kasus di lapangan masih terkendala terkait teknis dan kelalaian pemerintah.

Sebelumnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kebijakan ‘New Normal’ merupakan hanya dapat berlaku hingga ditekankan dan hanya bisa dilakukan di Negara yang telah berhasil mengendalikan kasus Covid-19, seperti Cina, Taiwan, dan Jerman. Sementara di Indonesia dengan angka kasus yang masih tinggi kebijakan ini terlalu berbahaya.

Pemerintah juga perlu berhati-hati untuk memberi kebijakan menuju kehidupan new normal karena membuat rencana kolonggaran aktivitas sosial akan memicu proses penularan yang berpotensi besar dan sangat mungkin terjadi. Jangan sampai gelombang besar kedua penularan akan menjadi sejarah di tanah air. Mengingat kasus positif corona belum mengalami penurunan yang signifikan akibat kebijakan yang dikeluarkan belum tepat.

Ditambah lagi virus ini belum memiliki obat pencegahan ataupun vaksin yang bisa diproduksi dalam manangani Covid-19. Apa lagi kasus di Indonesia belum konsisten menurun atau stabil. Maka perlu menjadi pertimbangan pemerintah ketika memberikan kelonggaran aktivitas, menuju kehidupan new normal secara bertahap dan berangsur-angsur yang tersusun sistematis dengan baik, mungkin bisa menekan laju penyebaran virus dan dapat berdamai dengan corona.

Sampai sekarang kondisi after Covid-19 sedang ramai diramalkan oleh para ahli. Yang jelas manusia akan lebih tinggi lagi bergantung pada teknologi. Pertarungan gagasan sedang terjadi di dunia akademisi, para pakar para ilmuan, apakah after Covid-19 kita akan kembali seperti sebelumnya atau membawa perubahan dan norma baru yang berbeda. Kita tidak begitu tahu apa yang mereka perdebatkan bahwa yang jelas para ilmuan ini yang akan membentuk kebudayaan kita.

Itulah beberapa point kata kunci yang dapat dipikirkan bersama dan menata kembali gerakan mahasiswa serta menjalankan peran dan fungsinya di tengah pandemi. Bayangkan kalau masyarakat, seperti pegawai informal, pedagang kecil-kecilan, orang yang kerjanya serabutan, dan para pekerja jalanan, yang status sosialnya menengah kebawah, tentu mereka sangat rentan dengan kemiskinan. Satu hari saja mereka tidak bekerja, maka tidak ada yang dapat dimakan untuk hari itu dan esoknya.

Tidak usah jauh-jauh berpikir. Satu contoh hari-hari terakhir ini saja, transportasi online sangat sepi. Pendapatan mereka turun drastis karena tidak ada yang mengorder.

Berbagai langkah di atas diharapkan dapat memperkokoh ekonomi keluarga serta mampu menurunkan tingkat kerawanan sosial dan menekan penyebaran di tengah amukan virus corona dan ancaman badai pengangguran yang setiap hari akan bertambah.

Fastabiqul Khairat